Customer Acquisition Cost

MRR dan Churn rate adalah dua metric terpenting bagi bisnis SaaS di industri manapun, ini adalah fakta yang diakui di seluruh dunia.
Metric ketiga ini, Customer Acquisition Cost (CAC), yang mungkin lebih mudah dipahami sebagai biaya yang ditanggung untuk memperoleh pengguna/pelanggan, adalah penyebab terbesar banyaknya startup, yang gagal bahkan setelah mulai memperoleh banyak penggunaan dari masyarakat.
Perlu dipahami bahwa biaya ini tidak mungkin terhindarkan. Setiap bisnis, termasuk SaaS, menanggung biaya ini dalam bentuk satu atau yang lain.
Bagi satu bisnis biaya ini muncul dalam bentuk gaji tenaga kerja sales, yang lain mungkin tidak memakai tenaga sales tetapi mengandalkan SEO sebagai sumber leads.
Bagi bisnis teknologi, selalu pasti memiliki website untuk menerangkan jasa, produk, dan profil bisnis tersebut kepada publik.
Belum lagi jika berbicara mengenai iklan, di media sosial atau channel tradisional seperti televisi atau radio.
Tentunya tidak lupa tentang endorsement fee yang dibayarkan ke influencer-influencer di media sosial.
Jadi yup, CAC datang dan ditanggung bagi bisnis, juga bisnis SaaS, dalam berbagai bentuk, umumnya tergantung dari segmen pelanggan dan industri yang disasar.
Bisnis SaaS yang dikelola dengan baik akan memperhatikan CAC untuk memastikan kelangsungan hidupnya dan kemungkinan suksesnya.
Dan seperti yang dikatakan sebelumnya, tidaklah mungkin untuk mencapai angka 0 untuk metrik ini, jadi jika itu mustahil apa yang seharusnya kita jadikan target untuk metrik ini?
Ini jawabannya:
💡
Customer Acquisition Cost (CAC) < Lifetime Value of Customer (LTV)
Selama LTV suatu bisnis lebih tinggi dari CAC-nya, maka bisnis tersebut tidak akan "mati kehabisan darah". Jika sebaliknya yang terjadi, dimana CAC lebih besar dari LTV, saat itulah bisnis bisa dikatakan mengalami pendarahan dan menuju kematian.
Bahkan seperti yang akan dibahas tentang LTV, target yang perlu dikejar adalah rasio 3.0 antara LTV dan CAC.